DEPRESI

SEKILAS TENTANG DEPRESI
Ditulis oleh: Dr. Surjo Dharmono, Sp.KJ (K)
Rabu, 3 Juni 2020


Tiba-tiba Anda merasa bersedih, merasa sendiri, dan tak ingin melakukan apa-apa. Hati-hati, jangan-jangan ini pertanda depresi.


Mungkin yang Anda alami di atas termasuk gejala depresi. Apa itu depresi? Gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai proses berpikir, berperasaan dan berperilaku seseorang.


Seseorang yang depresi memperlihatkan perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan, disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan. Selain itu yang bersangkutan juga kehilangan energy, sehingga kelihatan mudah lelah dan malas beraktivitas.


Apa penyebabnya?
Tidak ada penyebab utama tunggal pada gangguan depresi. Setiap orang dapat mengalami depresi karena berbagai penyebab dan karena berbagai pencetus yang berbeda. Paling tidak ada 3 model penjelasan etiologi depresi: model biopsikososial (the biopsychosocial model), teori dari sistem (theory of system) dan model diatesis-stres (the diatheses-stress model).


Model biopsikososial menjelaskan penyebab depresi terjadi interkoneksi dan interdependen dari faktor biologis, psikologis dan sosial. Model ini dapat efektif memprediksi terjadinya, keparahan dan kronisitas dari depresi dan memberi informasi subtipe berdasar biopsikososial.


Model diatesis-stres menjelaskan tentang hubungan antara penyebab potensial depresi dan derajat kerentanan individu untuk bereaksi terhadap penyebab tersebut. Model ini menjelaskan bahwa individu mempunyai kerentanan atau predisposisi untuk menjadi depresi pada berbagai derajat. Model ini mendukung bahwa mempunyai kecenderungan bawaan untuk menjadi depresi saja tidak cukup untuk mencetus terjadinya penyakit, tetapi harus berinteraksi dengan kejadian kehidupan yang stres (stressful life events) baik yang bersifat sosial, psikologis atau biologis untuk terjadi onset gangguan depresi.


Makin besar kerentanan bawaan pada seseorang, makin sedikit stresor lingkungan yang diperlukan untuk menjadi depresi dan sebaliknya. Sebelum dicapai sejumlah stresor yang melampaui batas kritis, maka individu secara umum dapat berfungsi normal dan kerentanannya dikatakan latent atau tersembunyi. Dampak dari stresor berbeda pada orang yang berbeda. Setiap stresor mempunyai dampak pada individu dalam dinamika yang unik. Sehingga menurut hipotesis diatesis-stres, maka faktor biologi secara khas berfungsi sebagai diatesis, faktor psikologis sebagai diatesis atau stresor dan faktor sosial berfungsi sebagai stresor atau pencetus.


Teori biologi dari depresi sering untuk mudahnya dikatakan sebagai ketidakseimbangan neurokimiawi atau neurotransmitters serotonin, norepinephrin dan dopamin serta yang akhir-akhir ini diduga juga terlibat pada depresi adalah glutamat dan amino butyric acid (GABA). Walaupun biokimiawi otak terlibat, namun penjelasan ini terlalu sederhana. Bahkan bila hanya melihat dimensi biologis dari depresi, otak mempunyai banyak lapisan dari kekompleksan. Penurunan produksi serotonin dapat menyebabkan depresi pada sebagian orang dan menyebabkan suasana perasaan murung, putus asa, hingga pikiran bunuh diri. Individu yang mengalami perasaan depresi, mengalami kadar norepinefrin yang menurun, demikian pula keadaan serotonin yang rendah mencetuskan penurunan kadar norepinefrin yang akhirnya menjadi depresi. Individu yang mengalami episode depresi yang multiple mempunyai saraf norepinefrin yang lebih sedikit daripada yang tidak pernah mengalami depresi.

Norepinefrin membantu mengenal dan merespon keadaan stress, sehingga diduga bahwa kerentanan terhadap depresi disebabkan karena system norepinefrin yang tidak mampu mengatasi stres dengan efisien. Kadar dopamin yang rendah menyebabkan individu tidak mempunyai gairah dan rasa senang terhadap aktivitas yang biasanya dilakukannya.


Genetik. Kembar identik berisiko 76% untuk menjadi depresi, sedangkan saudara tidak kembar hanya 50% risiko menjadi depresi bila ada salah satu saudaranya depresi. Penelitia

Komentar